Jumat, 26 November 2010

Kata maaf untuk sahabatku tercinta

wahai sahabat, masihkah kau berkenan tuk kusapa

setelah banyak kelakuanku yang membuatmu terluka

aku sadar aku bukanlah sapa sapa bagimu

namun bagiku kau adalah sosok orang yang berharga

yang tak muda didapat dalam realita



beginilah aku yang penuh kekurangan

yang mungkin tak se-sempurna dibanding kalian

namun aku masih mempunyai semangat juang

yang tak mudah ter goyahkan walaupun diterjang angin topan



sungguh aku menyesal.... dan aku tau jawabanmu

( penyesalan tak ada gunanya, nasi sudah menjadi bubur )

Aku sangat tahu sahabat, Kau pasti kesal, marah, kecewa bahkan mulai benci padaku,



Masihkah kau mau mendengar suaraku Sahabat ?

DikaLa sahabat tak bisa dibanggakan MaLah terkadang membuat Luka di hati

Tapi percayaLah kaLau Luka itu Kan menjadi sesuatu yang patut dikenang

WaLaupun pahit yang kau rasa Tapi keLak itu akan menjadi sesuatu yang maniezt dikenang



Tapi sayang…Tuk merubah rasa dari pahit ke maniezt Butuh waktu dan pengertian yang besar



Sekarang…Aku ingin mengubah pahit itu dengan kata “MAAF”



MaaFkan aku s0bat,,,MaaFkan aku

Selasa, 09 November 2010

Mutiara Cinta Rabbiyah Addawiyah

Jika kita mencintai seseorang, kita akan senantiasa mendo'akannya walaupun dia tidak berada disisi kita.

Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Jangan sesekali mengucapkan selamat tinggal jika kamu masih mau mencoba. Jangan sesekali menyerah jika kamu masih merasa sanggup. Jangan sesekali mengatakan kamu tidak mencintainya lagi, jika kamu masih tidak dapat melupakannya.

Cinta datang kepada orang yang masih mempunyai harapan, walaupun mereka telah dikecewakan. Kepada mereka yang masih percaya, walaupun mereka telah dikhianati. Kepada mereka yang masih ingin mencintai, walaupun mereka telah disakiti sebelumnya dan Kepada mereka yang mempunyai keberanian dan keyakinan untuk membangunkan kembali kepercayaan.

Jangan simpan kata-kata cinta pada orang yang tersayang sehingga dia meninggal dunia lantaran akhirnya kamu terpaksa catatkan kata-kata cinta itu pada pusaranya. Sebaliknya ucapkan kata-kata cinta yang tersimpan dibenakmu itu sekarang selagi ada hayatnya.

Mungkin Tuhan menginginkan kita bertemu dan bercinta dengan orang yang salah sebelum bertemu dengan orang yang tepat, kita harus mengerti bagaimana berterimakasih atas karunia tersebut.

Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat dan kemarahan menjadi rahmat.

Sungguh menyakitkan mencintai seseorang yang tidak mencintaimu, tetapi lebih menyakitkan adalah mencintai seseorang dan kamu tidak pernah memiliki keberanian untuk menyatakan cintamu kepadanya.

Seandainya kamu ingin mencintai atau memiliki hati seorang gadis, ibaratkanlah seperti menyunting sekuntum mawar merah. Kadangkala kamu mencium harum mawar tersebut, tetapi kadangkala kamu terasa bisa duri mawar itu menusuk jari.
Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika kamu bertemu seseorang yang sangat berarti bagimu, hanya untuk menemukan bahwa pada akhirnya menjadi tidak berarti dan kamu harus membiarkannya pergi.

Kadangkala kamu tidak menghargai orang yang mencintai kamu sepenuh hati, sehingga kamu kehilangannya. Pada saat itu, tiada guna penyesalan karena perginya tanpa berkata lagi.

Cintailah seseorang itu atas dasar siapa dia sekarang dan bukan siapa dia sebelumnya.
Kisah silam tidak perlu diungkit lagi, kiranya kamu benar-benar mencintainya setulus hati.

Hati-hati dengan cinta, karena cinta juga dapat membuat orang sehat menjadi sakit, orang gemuk menjadi kurus, orang normal menjadi gila, orang kaya menjadi miskin, raja menjadi budak, jika cintanya itu disambut oleh para pecinta PALSU.

Kamis, 04 November 2010

Mereka menyerang dengan cara halus

Di suatu sekolah, di negeri antah berantah. Seorang wanita berjilbab rapi tampak sedang asyik mengajar murid-muridnya. Ia berdiri sambil memegang kapur di tangan kirinya dan penghapus di tangan kanannya. Ia lalu berkata, "Saya punya permainan…" Murid-murid mulai kelihatan antusias.

"Caranya begini, di tangan kiri saya ada kapur, di tangan kanan ada penghapus. Jika saya angkat kapur ini, maka berserulah "Kapur!", jika saya angkat penghapus ini, maka berserulah "Penghapus!"

Murid-muridnya pun mengerti dan mengikuti. Sang Guru berganti-gantian mengangkat antara kanan dan kiri tangannya, semakin lama semakin cepat. Beberapa saat kemudian Sang Guru kembali berkata,

"Baik sekarang perhatikan. Jika saya angkat kapur, maka berserulah "Penghapus!" Jika saya angkat penghapus, maka katakanlah "Kapur!" Dan dijalankanlah adegan seperti tadi, tantu saja munid-munid kerepotan dan kelabakan, dan sangat sulit untuk merubahnya. Namun lambat laun, mereka bisa beradaptasi dan hal itu tidak lagi terasa sulit. Selang beberapa saat, permainan berhenti. Sang Guru tersenyum kepada murid-munidnya.

"Anak-anak, begituah kita ummat Islam. Mulanya yang haq itu haq, yang bâthil itu bâthil . Kita begitu jelas membedakannya. Namun kemudian, musuh-musuh kita memaksakan kepada kita lewat berbagai cara, untuk memutar-balikkan yang haq menjadi bâthil, dan sebaliknya. Pertama-tama mungkin akan sulit bagi kita menenima hal tersebut, tapi karena terus disosialisasikan dengan cara-cara yang menarik oleh mereka, akhirnya lambat laun kita terbiasa. Lalu kita pun mulai mengikutinya dengan suka rela. Musuh-musuh kita tidak akan pernah berhenti memutar-balikkan nilai-nilai".

"Pacaran tidak lagi sesuatu yang tabu, zina tidak lagi jadi persoalan, pakaian mini menjadi hal yang lumrah, sex sebelum nikah menjadi suatu hiburan, berjilbab tapi telanjang jadi mode, materialisme dan permisivisme kini menjadi suatu gaya hidup pilihan, dan lain lain."

"Semuanya sudah terbalik. Dan tanpa disadari, kalian sedikit demi sedikit menerimanya. Paham?" tanya Bu Guru kepada murid-munidnya.

"Paham Buu..."

"Baik, permainan kedua..."

Bu Guru berhenti sebentar mengambil mushaf yang ada di atas mejanya lalu melanjutkan, "Bu Guru punya mushaf, Ibu letakkan di tengah karpet. Nah, sekarang kalian berdiri di luar karpet. Permainannya adalah, bagaimana caranya mengambil mushaf yang ada di tengah tanpa menginjak karpet?"

Murid-murid berpikir keras. Ada yang punya alternatif dengan tongkat, ada yang ingin memanjat dan mengambilnya dari atas dan lain-lain. Karena tidak ada yang berhasil akhirnya Sang Guru memberikan jalan keluar; ia menggulung karpetnya lalu mengambil mushaf tersebut. Ia memenuhi syarat, tidak menginjak karpet.

"Anak-anak, begitulah ummat Islam dan musuh-musuhnya. Musuh-musuh Islam tidak akan menginjak-injak kita dengan terang-terangan. Karena tentu kita akan menolaknya mentah-mentah. Preman pun tak akan rela kalau Islam dihina di hadapan mereka. Tapi mereka akan menggulung kita perlahan-lahan dari pinggir, sehingga kita tidak sadar."

"Jika seseorang ingin membangun rumah yang kuat, maka dia harus membangun pondasi yang kuat. Begitu juga Islam, jika ingin kuat, maka bangunlah aqidah yang kuat. Sebaliknya, jika ingin membongkar rumah, akan sulit kalau membongkar pondasinya dulu. Tentu saja hiasan-hiasan dinding akan dikeluarkan dulu, kursi dipindahkan dulu, lemari disingkirkan dulu satu per satu, baru kemudian rumah dihancurkan" .

"Begitulah musuh-musuh Islam menghancurkan kalian. Mereka tidak akan menghantam terang-terangan, tapi mereka akan perlahan-lahan mencopot kalian. Mulai dari perangai kalian, cara hidup, model pakaian dan lain-lain. Sehingga meskipun kalian muslim, tapi kalian telah meninggalkan ajaran Islam dan mengikuti cara mereka... Dan itulah yang mereka inginkan."

"Ini semua adalah fenomena Ghazwul Fikri (Perang Pemikiran). Dan inilah yang dijalankan oleh musuh musuh kalian... Paham ànak-anak?"

"Paham Buuu…" jawab murid-murid serentak.

"Kenapa mereka tidak berani terang-terangan menginjak-injak Islam, Bu?" tanya seorang murid.

"Sesungguhnya dahulu mereka terang-terangan menyerang, misalnya pada Perang Salib, Perang Tartar dan lain-lain. Tapi sekarang tidak lagi."

"Begitulah umat Islam... Kalau diserang terang-terangan, mereka sontak akan bangkit dan melawan. Tapi kalau diserang secara perlahan dan tersembunyi, mereka tidak akan sadar. Lalu lama kelamaan akan ambruk sendiri."

"Paham anak-anak?"

"Paham Buu.."

"Kalau begitu, kita selesaikan pelajaran kita kali ini, mari kita berdoa dahulu sebelum pulang..."

Matahari bersinar terik tatkala anak-anak itu keluar meninggalkan tempat belajar mereka dengan pikiran masing-masing di kepalanya.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More